Bintang Langit

December 23, 2006

Puisi Hari IBU: Lahir

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 12:26 am

Dengan semangat Hari IBU, aku membuat satu sajak. ^_^
IBU, selamat!

                                      –oOo–

Lahir

Awan sanggup tulus
ketika rinai hujan kepunyaannya
dilahirkan untuk bumi.

Bumi sanggup haru
ketika bunga kepunyaannya
dilahirkan untuk pelengkap warna sayap kupu-kupu.

Kupu-kupu sanggup bertaruh nyawa
ketika suasana kepunyaannya
dilahirkan untuk rasa suka anak kecil yang
berlari-lari di taman itu.

Dan kau semestinya tahu bahwa anak kecil itu
hanya sanggup dilahirkan dengan tulus, haru dan nyawa
kepunyaan ibu.

Rancabungur, 23 Desember 2006
jackstar hs

December 20, 2006

“Deleted, then Re-posting” & “First Kiss”

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 9:29 am

Aha! Beres juga. Deleted, then re-posting isi blog-ku: dari "Aku Suka Sekali Bintang" sampai dengan "Kau Hanya Mengira". Tak ada beda, tak ada tambah. ^_^

O, aku baru ingat. Ada yang berkurang: comments. Bli Angga, Kak Rudi, Oom Bayu ‘n Emi, maap, ya, your comments kehapus jadinya, deh. :(

–oOo–

Aku inget lagi sama kata-kata yang aku pernah buat dulu. Dulu, waktu masih sering main ke kampus, sampe malam, sampe besok pagi nya lagi. Dulu, waktu masih terasa suasana berfoto di Sabuga, dengan Toga. Dulu, waktu seorang temen bilang, "Cari kerja sana, Jack! Biar gak bikin puisi mlulu! Hehe…" Tau, gak? Bekerja dan berpuisi pada hakikatnya sama: menari. Dia tidak menyadari hal itu. ^_^

–oOo–

Kecupan pertama

Kecupan pertama
titik-titik hujan pada jalanan aspal
yang aku lalui ini
menggoda darahku untuk kembali
mengenang awal kebersamaan kita.

Begitu damai…
Mana mungkin bisa ku lupa?

Bandung, 2003
jackstar hs

–oOo–

Hey, I’m trying to make my English version of "Kecupan Pertama"! ^_^

First Kiss

First kiss
of rain dots on the road
where i walk in
seduces me to
remember our first day together.

So peace…
Impossible to be forgotten!

Rancabungur, 21 Desember 2006
jackstar hs

Kau Hanya Mengira

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 8:12 am

Kau hanya mengira asap rokok yang kau hembuskan dari mulutmu

dan sebagian lagi dari hidungmu, yang menyelinap ke luar jendela kamarmu

bersama angin sore, akan menyampaikan cerita untuk gadis yang kau rindui.

Kau tidak pernah tahu asap rokok cemas: apakah dia asap rokok

ataukah dia angin saat telah berada di luar jendela kamarmu.

Kau hanya mengira. Kau tidak pernah tahu.

Rancabungur, 17 Desember 2006

jackstar hs

Perihal Kamu dan Aku

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 8:09 am

[1]

Kamu matahari

sinar hangatnya membawa naik embun pagi di rerumputan;
embun
tidak pernah merasa berhak untuk menolak apapun
dari matahari.

[2]

Aku bintang langit sehabis hujan

tidak selalu bisa memandangmu. "Kamu dimana?" Katamu;
kamu
seolah tidak pernah percaya aku selalu ada
dan menemanimu.

Rancabungur, 16 Desember 2006

jackstar hs

Mau Kau Buka Jendelamu?

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 8:04 am

untuk: dok

Matahari terbit di atas kepalamu

untuk bersinar bersamamu
sepanjang hari.

Bintang-bintang tergantung seperti lampion di langit

untuk menari bersamamu
sepanjang malam.

Mau kau buka jendelamu?

Hidupmu kini pikiranmu sendiri. Ada yang nyata

di depan mata,
yang kau lupa
atau kau tak mau tahu.

Mau kau buka jendelamu?

Rancabungur, 16 Desember 2006

jackstar hs

“… makanan ini adalah wujud kasih Tuhan.”

Filed under: Longer Words — bintang-langit @ 8:01 am

Langit di atas sana begitu biru, seperti baru. Pun awannya begitu bersih, tak berselisih. Tapi, hari ini sedang lelah menari tarian yang sama, aku coba tarian lain. Barangkali ini tidak semestinya, tapi aku tetap bisa menari. Itu yang penting!

–oOo–

Aku baca lagi email terdahulu, yang pernah aku kirimkan ke sebuah milis, sebagai respon dari email berisi foto-foto yang bercerita tentang bencana kelaparan di Afrika. Aku tidak mungkin menampilkan foto-foto itu di sini; foto-foto itu membuat aku hampir tidak bisa menari! Sudahlah. Di sini aku hanya ingin bercerita tentang sebagian dari isi email ku itu.

–oOo–

Aku punya dua orang tokoh yang aku kagumi karena keutuhannya: Romo Mangun (J. B. Mangunwijaya) dan Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat). Hal yang lain lagi, aku melihatnya, mereka punya kesamaan dalam berbagai hal.

Aku pernah membaca bahwa di suatu kesempatan Romo Mangun makan bersama anak-anak di kali Code. Beliau mendapati banyak di antara anak-anak itu tidak menghabiskan makanan mereka. Kemudian beliau mulai mengumpulkan makanan yang tersisa itu dan beliau makan. Ada sepotong kalimat beliau untuk mereka ketika itu yang selalu aku ingat, "… makanan ini adalah wujud kasih Tuhan."

Cerita di atas sangat kontras dengan kebiasaan beberapa orang yang aku kenal. Katanya, kebiasaan ini merupakan sebuah etika di dalam perjamuan. Etika itu menyebutkan bahwa baik untuk tidak memakan makanan sampai habis di dalam suatu jamuan makan. Entahlah ini benar atau tidak. Yang aku tahu, banyak yang mengamininya. Ini konyol! Apakah orang-orang yang mengamini etika konyol itu ingat dengan kehidupan para gelandangan yang kelaparan?
Seperti suatu hari, ketika Kang Jalal membuat nasi goreng, beliau tiba-tiba ingat seorang gelandangan yang biasa berada di sekitar rel kereta api.

Ketika itu, beliau langsung membatalkan rencana menikmati nasi goreng itu di rumahnya. Beliau wadahi nasi goreng itu dalam rantang, kemudian beliau berikan pada seorang gelandangan di sekitar rel kereta api itu. Apakah aku bisa berbuat seperti ini?

Kang Jalal, di islamlib.com, pernah mengatakan demikian, "… Selain itu, orang Islam pun bisa disebut kafir, kalau dia tidak bersyukur pada anugerah Tuhan… Nabi sendiri mendefinisikan kafir (sebagai lawan kata beriman) dengan orang yang berakhlak buruk. Misalnya, dalam hadis disebutkan, ‘Tidak beriman orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya lelap dalam kelaparan.’"

Rancabungur, 14 Desember 2006

jackstar hs

Berjanji

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 7:57 am

How each of us denies

any other way in the world

(The Cure)

Aku berjanji pada waktu

yang pernah menemaniku

menunggu seseorang: akan selalu aku rindui.

Aku berjanji pada redup cahaya

yang pernah menggodaku

di depan seseorang: akan aku ajak menari lagi, lain kali.

Aku (tidak mau) berjanji pada sukma

yang aku dekati

dengan kesabaran dan kecerdasan: akan aku biarkan duduk damai.

Aku katakan: aku mencintainya; sukma kemudian

hanya terdiam. Mungkin

karena kesabarannya atau mungkin

karena kecerdasannya. Sukma kemudian

hanya terdiam mungkin karena ketidak-mau-tahuannya.

Aku katakan: siapa butuh damai ketika

sudah menari dan merindui. Sukma

katakan: menarilah
bersama angin dan

rinduilah

sampai kau berserak di pantai
lalu kau lenyap

karena matahari atau

karena ombak.

Sial!

Rancabungur, 14 Desember 2006

jackstar hs

Cappucino Sore Itu

Filed under: Longer Words — bintang-langit @ 7:52 am

Minggu pagi…

…dan akhirnya aku kembali dari tempat kerjaku, sambil membawa empat buku
kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono: "Ayat-ayat Api", "Hujan
Bulan Juni", "Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?" dan
"Mata Jendela". Aku
rindui tiap-tiap detik yang jatuh dari bola matamu…

Aku tumpuk saja buku-buku itu di
atas meja tulis kamarku untuk aku baca nanti. Lalu, aku ke dapur menyiapkan
segelas kopi. Nyaman sekali minum kopi dengan
sebatang-rokok-yang-tidak-akan-aku-candui di antara jemariku. Sukma tidak
duduk damai. Itu sejatinya…

Aku nikmati beberapa teguk kopi
itu dan kemudian aku mulai sadari kopi ini tidak senikmat Cappucino yang kami
teguk sore itu. Baru sore itu saja aku pesan Cappucino di Starbucks. Aku
biasanya pesan Latte atau Americano saja. Sebelumnya, aku pernah beberapa kali
mencoba nikmati Cappucino, meski bukan di Starbucks, namun tidak pernah
berhasil. Alasan itulah yang membuat aku tidak pernah lagi memesan Cappucino,
hingga sore itu. Hingga sore itu…

Aku belum pernah merasakan
Cappucino senikmat Cappucino yang aku teguk sore itu. Entah karena Cappucino
itu buatan Starbucks. Entah karena suasana sore itu. Entah karena aku sedang
berada ditengah-tengah kebersamaan kami. Mungkin karena yang terakhir itu. Aku
belum pernah merasakan Cappucino senikmat Cappucino yang aku teguk sore itu…

Bogor, 10 Desember 2006
jackstar hs

“Jackstar tuh apa sih, Akang??”

Filed under: Longer Words — bintang-langit @ 7:49 am

Seperti juga yang dibilang seorang tokoh
eksistensialis sekaligus psikoanalis, ketika kita
dihadapkan pilihan yang tampak kelabu dan diwarnai
oleh kecemasan untuk setiap opsinya, lalu akibat dari
diskusi jiwa sangat dahsyat untuk mencari jawaban yang
ditopang oleh keberanian, lahirlah: kreativitas! eng
ing eeeeeng hehehehe

Pada saat itulah lahir nama Jackstar Hamzah Shirazi
sebagai founding father of SekteCinta! hahahaha

Jackstar : sebuah nama yang diilhami dari kartu remi
bertanda "J"; sementara "star" adalah bahasa inggris
dari "bintang", sebuah ciptaan Tuhan yang sudah
digunakan banyak orang sejak jaman duluuuuuuuuuuuuu
sekali sebagai simbol seseorang yang berusaha dengan
sukacita membagikan "cahaya"-nya untuk "penerangan di
malam yang gelap" cieeeeeeeeeeeeee..eng ing eeeeng

Hamzah : diilhami dari nama paman Kanjeng Nabi SAW,
yang pada masanya adalah seorang ksatria. Di satu film
bahkan digambarkan bahwa tak ada seorang "preman" pun
yang berani melawan beliau one on one pada saat beliau
kesal ponakannya di lempari batu. eng ing eeeeeeeeng

Shirazi : diilhami dari nama seorang filosof islam
yang biasa dipanggil Mulla Sadra. Beliau tokoh filosof
yang namanya adalah Sadr al Din bin ..bla..bla..bla..
bin …bla…bla…bin…bla..bla. Shirazi (baca:
Sadrodin Syirazi). Namanya ada "Syirazi", ato dalam
transliterasi bhs inggris biasa ditulis  "Shirazi",
karena dia lahir di kota Syiraz. Biasa, deh, budaya
penamaaan orang persia, atau tepatnya dia orang Iran.

begitu lhoo eng ing eeeeeeeeeeeeng!! Hahahaha
                           

—oOo—

Tulisan di atas teh adalah email jaman dulu, jawaban
dari email temen yang tanya "Jackstar tuh apa sih, Akang??". Waktu itu, langsung aja aku tulis…ya,
yang diatas itu. Tapi, sekarang aku bingung juga, kok
bisa, ya, aku nulis kayak gitu?!… Hmm… No problemo sih…
Hehehe…

Anyway, aku udah gak tau lagi sekarang siapa yang aku
maksud "seorang tokoh eksistensialis sekaligus
psikoanalis" yang aku sebut di atas itu… Hmm…
Heran… Abis baca buku apa waktu itu, ya…

Oiya, gara-gara "eng ing eng - eng ing eng" di atas,
aku jadi inget e-chan who can’t say "r", thus change
it by "ng". Tapi, rasanya, sih, dulu waktu dia nyebut
"ibu Rita", penyebutan "r"-nya jelas-jelas ajah…
I Should meet her soon buat mastiin nih! :P Saying "r"
by "ng" is sexy, no? ^_^

Rancabungur, 7 Desember 2006

jackstar hs

“… Kedokteran UNPAD!”

Filed under: Longer Words — bintang-langit @ 7:46 am

Celana jeans, jaket juga.
Pintar, seksi menggoda.
Dia cantik, tidak tergugat.
Bidadari kami mahasiswi kedokteran UNPAD!

Itu teh potongan lirik salah satu lagunya The PanasDalam. Gokil abis! Huahaha…

Eh, kabarnya sang vokalis yang nyanyiin lagu di atas itu udah cabs dari The PanasDalam loh! (Berita lama, ya? Hehe… ). Walhasil, The PanasDalam punya formasi baru sekarang.

Aku sempet donlot beberapa lagu The PanasDalam dengan format barunya. Menurutku, nih, jagi gak OK deh. Warna musinya jadi beda. Liriknya  "disisipi" nilai-nilai moral, sih. Tapi, menurutku malah jadi garing. Why? Warna musik, the way of singing -nya dan liriknya gak harmonis, sih. However, good luck, The PanasDalam!

Rancabungur, 4 Desember 2006
jackstar hs

« Previous PageNext Page »

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.