Bintang Langit

July 3, 2007

Puisi Saduran: Hujan

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 2:15 am

Ah… aku temukan lagi tulisan ini. Aku pernah menyadur puisi mbak Esthi dari tulisan aslinya dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia :)
-oOo-

Hujan
oleh mbak Esthi

Hujan pagi hari-apa hujan
membutuhkan seseorang
untuk mendengar seksama
suara rintiknya itu? Apa udara
bersyukur atas rasa segarnya itu?

Di dalam diam dan
kesendiriannya, hujan
tidak meminta apapun. Hujan
adalah rintik
di pagi hari itu.

Rancabungur, 11 Januari 2007
jackstar hs

Aku Tidak Mengerti

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 2:08 am

Ya, begini ini hasilnya kalau aku bikin puisi cinta: “Gombal!” kata mama Ntie mah. Hehe… Dulu itu, sebenarnya, aku tulis puisi ini karena aku terinspirasi oleh puisinya SDD, “… mencintaimu harus menjelma aku.” :)
-oOo-

Aku Tidak Mengerti

Aku tidak mengerti tentang
cinta sejuk untuk angin yang selalu
memeluknya.

Aku tidak mengerti
cinta cahaya sayu untuk malam yang selalu
menggenggam jemarinya

Aku tidak mengerti
cinta embun untuk pagi yang selalu
mengajaknya terbang di langit.

Aku hanya mengerti,
aku mengada untuk cinta padamu.

Rancabungur, 26 Desember 2006
jackstar hs

July 2, 2007

Hujan Turun

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 2:09 am

Semalam hujan turun
menghujam bumi
membangkitkan sungai yang penat oleh ulah manusia,
lalu lenyaplah segalanya.

(Aku hanya ingin istirahat sejenak
untuk kemudian membuat halaman
teduh oleh pohon,
agar kau dapat duduk teduh di bawahnya.)

Rancabungur, 2 July 2007
jackstar hs

Puisi: Aku Berkaca Pada ….

Filed under: Shorter Words — bintang-langit @ 1:48 am

Ini puisi lama. Dan “nakal” ;)
-oOo-

Aku Berkaca Pada ….

Aku berkaca pada
pacarku
yang jelita itu. Katanya:
kamu ganteng juga, ya.

Aku berkaca pada
wanita
yang pernah beberapa kali aku kencani itu. Katanya:
kamu ganteng juga, ya.

Aku berkaca pada
isteriku
yang lembut itu. Katanya:
kamu ganteng juga, ya.

Aku berkaca pada
gadis sebelah rumah
yang pernah aku kecup bibirnya
saat anak-isteriku tidak di rumah. Katanya:
kamu ganteng juga, ya.

Lalu aku berkaca pada
cermin oval
yang menggantung di dinding kamar itu-Loh!
Ini ‘kan Tom Cruise?!

Rancabungur, 31 Desember 2006
jackstar hs

January 27, 2007

Tunjukan yang Baik Saja

Filed under: Curiousity — bintang-langit @ 12:37 am

Tunjukanlah yang haq (baik), maka yang bathil (buruk) akan sirna dengan sendirinya.

Sekarang ini, sebagian besar sinetron menampilkan dua hal berlawan yang ekstrim: baik-jahat, marah-menangis dan sebagainya. Kabarnya mereka (terutama sinetron- sinetron yang menggunakan simbol-simbol keislaman) memiliki tujuan mulia: menyampaikan nilai-nilai moral.

Tapi, apa yang terjadi? Sinetron-sinetron itu menampilkan orang yang berkerudung,  tapi menampilkan juga orang yang berbusana "terbuka"; menampilkan orang yang bersifat baik, tapi menampilkan juga orang yang bersifat buruk luar biasa; menampilkan orang yang bersembahyang (solat), tapi menampilkan pula orang yang berzina. Sinetron-sinetron itu menampilkan dua hal yang ekstrim. Kemudian, di sana ditampilkan bahwa yang "baik" akan menang dan yang "jahat" akan kalah secara ekstrim.

Sinetron-sinetron dengan pola cerita seperti di atas diputar setiap hari, terus- menerus; dan ditonton pula setiap hari, terus-menerus. Apa benar dengan pola cerita seperti ini, misi "menyampaikan nilai moral" itu akan tercapai? Akibat ditonton terus-menerus, maka yang kemudian hadir di dalam benak penonton adalah bahwa setiap hal yang disajikan oleh sinetron-sinetron tersebut akan dianggap hal "biasa". Parahnya, jika yang dianggap "biasa" itu adalah sisi "jahat"-nya. Ini sangat mungkin terjadi, sehingga nilai moral tersebut gagal tersampaikan.

Lalu, bagaimana? Di dalam Islam, kita diajarkan bahwa dengan menunjukan yang haq (benar, baik), maka yang bathil (salah, buruk) akan sirna dengan sendirinya. Nilai moral yang bertujuan untuk membuat sirna yang "jahat" tersebut akan tersampaikan secara efektif dan fokus apabila kita dapat menyajikan sebuah cerita yang di dalamnya memuat unsur-unsur kebaikan (haq) saja. Dengan begini, "nilai moral" tersebut akan sampai pada yang dituju: pelaku-bathil, sehingga dia bisa berangsur-angsur berubah menjadi pelaku-haq.

Saya pikir, sudah saatnya sekarang kita coba membuat karya cerita dengan pola cerita yang menampilkan hanya sisi kebaikan dari kehidupan ini melalui penyajian perilaku, cara berbusana, cara berbicara, cara mengendalikan emosi, suasana, tempat terjadinya suatu peristiwa (setting) dan lain-lain.

Tidak perlu lantas menjadi ekstrim sehingga terlihat naif. Yang seperti ini pernah saya lihat di sebuah sinetron dimana ditampilkan seorang "soleh" yang selalu membacakan hadist-hadist Nabi Saw saat melawan"musuhnya" (peran antagonis).

Sekarang, apakah benar dengan pola cerita begini sebuah cerita/ sinetron menjadi tidak menarik? Ataukah kita hanya belum bisa saja membuatnya?

Rancabungur, 27 Januari 2007
jackstar hs

January 22, 2007

Kasih Sayang Tuhan

Filed under: Longer Words — bintang-langit @ 6:48 am

Seperti biasa, blog ini saya isi dengan tulisan yang awalnya merupakan email balasan
(respond) saya terhadap sebuah tulisan di sebuah milis ^_^

–oOo–

Kasih Sayang Tuhan

Perpisahan (apalagi untuk selamanya) tentu merupakan derita paling pedih bagi setiap  pihak yang saling mencinta. Lalu, menangis (meratap) menjadi sebuah ekspresi atas  perpisahan itu, yang hadir tanpa perlu aba-aba dan persiapan.

Ada yang mengatakan bahwa suasana terindah adalah suasana yang dimiliki oleh dua pihak yang saling mencinta ketika mereka berada di dalam kedekatan dan kebersamaan.  Dia mengatakan bahwa seperti itulah surga. Surga adalah tempat dimana selalu hadirnya suasana kedekatan dan kebersamaan antara dua pihak yang saling mencinta: ciptaan dan Sang Pencipta.

Sementara itu, semua hal yang terjadi di dalam hidup ini selalu berjalan atas kendali-Nya, yang karena itu terkadang kita sulit (bahkan tidak dapat) "mengerti" samasekali: mengapa harus begini? Mengapa terjadi begitu? Terkadang juga, kita sebenarnya bisa "mengerti", tetapi tidak mudah untuk bisa "menerima".

Agama yang saya yakini, Islam, mengajarkan kita untuk selalu ber-husnudzan
(berprasangka baik) pada Tuhan, Sang Pencipta, agar kita bisa selalu belajar "menerima" segala yang terjadi di dalam hidup ini. Dengan "menerima", bukan berarti kita kemudian menjadi pasrah tanpa upaya. Tetapi, malah untuk berupaya "membaca" dengan seksama atas hadirnya hikmah (pelajaran, nilai yang tersembunyi atau sebuah peringatan agar kita tersadarkan) yang menyertai kejadian di dalam kehidupan ini.

Menganggap bahwa "kematian untuk seseorang merupakan akhir dari perjuangan dan penderitaan dalam hidup ini", menurut saya, adalah sebuah bentuk prasangka baik pada Tuhan. Karena Tuhan-lah Sang Pemilik Kendali atas kematian seseorang; karena Tuhan-lah Sang Penentu atas kematian seseorang. Dengan demikian, kematian tersebut dapat menjadi sebentuk kasih sayang yang diberikan oleh Tuhan kepada ciptaan-Nya itu.

Tuhan juga memberikan sebentuk kasih sayang kepada kita (yang ditinggalkan oleh mereka) berupa hikmah yang harus kita "baca" dengan seksama. Hikmah itu dapat berupa peringatan agar kita tersadarkan untuk selalu mawas diri (introspeksi): seberapa besar manfaat keberadaan kita di tengah-tengah keluarga, masyarakat dan bangsa sebelum kita menjumpai kematian nanti. Hikmah itu dapat berupa "pecutan" yang menyadarkan para pihak-pihak yang peduli pada bangsa dan negara ini untuk memperbaiki dengan sungguh-sungguh segala permasalahan yang melanda bangsa dan negara ini. Dan hikmah itu juga hadir dalam bentuk lainnya.

Rancabungur, 22 Januari 2007
jackstar hs

January 20, 2007

“Kita” dan “Mungkin”

Filed under: Curiousity — bintang-langit @ 11:08 am

Uraian berikut ini pada awalnya ditujukan untuk "meramaikan" diskusi di sebuh milis. Nah, biar blog ini tampak aktif, aku posting juga, deh, tulisan itu ke sini. ^_^

–oOo–

KASUS PENGGUNAAN KATA "KITA" DAN "MUNGKIN"

Saat ini, "Bahasa Gaul" sepertinya telah menjadi Bahasa Indonesia yang tidak perlu lagi patuh dengan Kata dan Tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada dampak buruk dari kebiasaan penggunaan bahasa gaul ini: si pengguna bisa menjadi benar-benar lupa bagaimana ber-Kata dan ber-Tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Ya, saya melihat juga ada kebiasaan mengganti kata "karena" menjadi kata "secara" pada bahasa gaul. "So pasti gua ngarti, SECARA gua gaul gitu lokh!" Tentang ini, saya melihat adanya kemunduran daya kreasi si pelaku di dalam aksi "gaul"-nya. Alih-alih membuat (mencipta) kata yang baru, kata "secara" yang sudah memiliki arti yang mapan dipaksakannya untuk menggantikan penggunaan kata "karena" yang sudah mapan juga.

Selain ketidaktepatan kata "secara" yang digunakan dalam berbahasa, saya menemukan juga ketidaktepatan kata "kita" dan "mungkin" yang biasa digunakan dalam berbahasa. Ketidaktepatan dalam berbahasa ini bahkan terjadi pada situasi yang formal-informatif (harusnya edukatif juga).

Kesalahan Penggunaan Kata "Kita"
Sering saya menyaksikan hal seperti ini: di dalam sebuah konferensi pers seorang anggota sebuah Band menjelaskan tentang rencana promosi album terbaru mereka, "…KITA akan melakukan tour di Jawa dan Sumatera untuk promo album baru KITA…." (Loh? Kapan saya berencana tour bersama kalian? Kapan pula saya membuat album bersama kalian?)

Dalam situasi konferensi pers di atas, sebenernya saya tahu, yang dia maksud "kita" adalah dia dan teman se-Band-nya (ada tambahan: serta para crew-jika memang dia bermaksud mengikutsertakannya). Padahal, jika kita melihat kamus, sebagai sumber acuan berbahasa yang baik, maka kita akan menemukan bahwa semestinya dia menggunakan kata "kami", bukan "kita". Contohnya sbb. (Wojowasito: 1996):
1. "kami", aku sekalian (orang tempat berkata tidak termasuk); dan
2. "kita", aku sekalian (termasuk juga orang tempat berkata).

Penggunaan kata "kita" (yang semestinya "kami") ini sudah menjadi candu akhir-akhir ini. Sudah banyak orang yang menikmati penggunaan kata "kita" (untuk mengganti "kami") hingga mereka lupa kata itu tidak semestinya digunakan, bahkan pada ajang yang bersifat formal sekalipun.

Kesalahan Penggunaan Kata "Mungkin"
Saya berikan beberapa kasus kesalahan penggunaan kata "mungkin" sbb.:
1. Di atas panggung, ketika sesi selanjutkan akan dimulai, seorang MC ternama berkata pada hadirin, "…MUNGKIN kita masuki acara selanjutnya! Kita sambut: Krisdayanti!"

2. Di dalam email-baru yang masuk sebuah milis tertulis, "… ada yang bisa bantu MUNGKIN?"

3. Di dalam sebuah email-balasan di sebuah milis, sebelum menguraikan kritik dan sarannya, seseorang menuliskan kata-kata ini,  "Dear All, MUNGKIN saya mau memberi sedikit kritik dan saran untuk email Bung …."

Masih banyak contoh kasus lain kesalahan penggunaan kata "mungkin" ini dalam berbahasa. Pada kasus  no. 1, semestinya kata "mungkin" itu tidak disebutkan samasekali; no. 2, semestinya dia bisa mengatakan, "APAKAH ada yang bisa bantu?"; no. 3, kata "mungkin" itu semestinya dihilangkan samasekali.

Suatu kali, saya pernah mendengarkan seorang kawan memberikan kata sambutan di acara reuni kami. Di dalam kata sambutannya, dia menyebutkan kata "mungkin" yang tidak tepat penggunaanya sebanyak 11 kali (!), padahal dia bicara selama kurang dari 5 menit saja.

Sebuah Hipotesis
Untuk kasus kata "kita" dan "mungkin", saya memiliki hipotesa bahwa ada keterkaitan antara kasus berbahasa yang salah dengan berbagai masalah yang melanda negeri ini. Berbagai masalah yang melanda negeri ini (krisis moneter, bencana alam, korupsi dll.) membuat orang cenderung untuk tidak percaya diri.

Sekarang ini banyak sekali terbit buku-buku tentang motivasi. Selain itu, ada juga buku-buku tentang psikologi populer atau psikologi remaja yang intinya sama: motivasi. Buku-buku motivasi ini menjadi banyak "cabang"-nya, selain psikologi remaja tadi, ada juga motivasi terkait dengan management, motivasi untuk usahawan, motivasi untuk pelajar, motivasi untuk karyawan  dll. Bahkan sekarang ini training-training motivasi menjadi produk baru yang laris di pasaran. Fenomena-fenomena ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia ini memang sedang terpuruk dan butuh sesuatu yang bisa membangkitkan dirinya.

Keterpurukan bangsa ini, salah satunya, diwujudkan pada kecenderungan untuk tidak percaya diri. Ke-tidak-percaya-diri-an ini kemudian melahirkan kegemaran penggunaan kata "kita" yang seolah-olah selalu ingin melibatkan orang lain untuk mendukung tindakannya. Juga, melahirkan kegemaran penggunaan kata "mungkin" yang seolah-olah menunjukan bahwa dia sendiri tidak yakin apa yang dia lakukan.

Apakah benar sedemikian parah ke-tidak-percaya-diri-an bangsa Indonesia ini?

Rancabungur, 21 Januari 2007
jackstar hs

January 11, 2007

Sedikit Pendapat Perihal Cita-cita

Filed under: Curiousity — bintang-langit @ 5:09 am

Tulisan di bawah ini adalah kutipan dari komentar saya atas sebuah postingan di suatu milist beberapa waktu lalu (26 Desember 2006). Selain untuk dokumentasi, saya tampilkan kutipan tersebut di blog ini agar blog ini kelihatan aktif :p

–oOo–

Memiliki Cita-cita itu Penting

Walt Disney pernah mengatakan, "If you can dream it, you can do it!" Kata-kata itu bukan masalah apakah dalam ukuran sekarang hal ini realistis atau tidak, apalagi masa yang akan datang. Siapa dari kita yang tahu masa yang akan datang kita?

Kata-kata itu merupakan optimisme perjuangan dalam ukuran sekarang. Perjuangan akan berjalan dengan baik apablia ada sesuatu yang jelas yang disadari kehadirannya di dalam diri si pejuang. Adalah cita-cita (’dream’, istilah Walt) sesuatu yang mesti jelas, yang mesti disadari kehadirannya.

Orangtua mengajarkan kita bercita-cita bukan untuk sekedar mimpi sembari tidur. Orangtua mengajarkan kita bercita-cita agar menjelma sesuatu yang jelas yang disadari kehadirannya di dalam diri.

Cita-cita yang jelas mutlak ada, karena itulah yang diperjuangkan setiap manusia. Tapi, bersamaan dengan menghadirkan cita-cita dalam diri, ada hal yang sangat penting, yang mesti dihadirkan dalam diri: ada Tuhan di dalam kehidupan kita. Tuhan Yang Maha Baik, Yang Maha Mengerti atas apa yang kita sebenarnya butuhkan.

–oOo–

Langit Rancabungur malam ini masih tampak terang, seperti beberapa hari kemarin. Bintang-bintang, awan, bulan dan warna birunya masih hadir damai di atas kepalaku. Tapi, semenjak maghrib tadi terasa kencang sekali angin bertiup disini; pepohonan di luar tampak bergoyang-goyang, seperti penari yang malu-malu; jendela-jendela yang tidak terkunci dengan benar terdengar suara buka-tutupnya.

Barangkali, sebentar lagi hujan akan datang. Angin itu seolah pertanda bahwa sebentar lagi hujan akan memenuhi janjinya pada ladang tanaman.Tapi, langit Rancabungur malam ini tampak terang. Langit Rancabungur masih tampak terang sampai detik ini.

Rancabungur, 11 Januari 2007
jackstar hs

January 9, 2007

Perihal Dukun (Menurut Sahabat dari Bali)

Filed under: Curiousity — bintang-langit @ 7:29 am

Beberapa malam kemarin langit di atas Rancabungur terang, juga malam ini. Ya, langit ini terang semenjak Bulan Purnama hadir kembali untuk bumi tanggal 3 Januari 2007 kemarin. Aku pikir Purnama selalu menunggu: siapa lagi yang kali ini akan menjadi serigala itu. (Serem banget…. :p)

–oOo–

Belum lama ini aku "berdikusi" tentang dukun dengan seorang sahabat, seorang "Bli". Pada awalnya obrolan tentang dukun ini dilakukan melalui sms. Namun, kemudian Bli menawarkan untuk memberi penjelasan lebih lengkap melalui e-mail. Uraian berjudul "Perihal Dukun" di bawah ini merupakan kutipan dari e-mail tersebut. Selamat membaca! (Dukun??? Tambah serem deh… :p)

Rancabungur, 9 Januari 2007
Jackstar hs

–oOo–

PERIHAL DUKUN

oleh sahabat Bli

Jiwa dan Roh
Pada dasarnya konsep kehidupan orang Bali sbb:seluruh mahluk hidup mempunyai jiwa, baik tanaman, hewan maupun manusia. Jiwa (=Atman) berasal dari Tuhan YME; apabila jiwa tersebut masuk dan bereaksi dengan alam material ( yaitu ditambah lapisan-lapisan kehidupan) maka akan terbentuk makhluk hidup. Seperti itu sederhananya.

Lalu, yang disebut sebagai roh (atau roh gentayangan) adalah jiwa yang karena alasan tertentu belum/ tidak bisa menuju alam spiritual yg lebih tinggi (padahal badan kasarnya sudah tidak ada/ tidak bisa dipakai lagi). Jiwa ini (yaitu roh) masih diselubungi oleh beberapa lapisan (seperti pikiran, nafsu, keinginan dll) sehingga mereka masih mengingat segala sesuatunya semasa hidup.

Menurut kepercayaan, roh-roh ini menempati alam-alam tertentu; bukan alam material, tapi alam spiritual di tingkat-tingkat tertentu, sesuai kesadarannya terhadap Tuhan. Jadi, bila ada orang dengan kemampuan khusus (biasanya dikenal dengan istilah: "dukun", "cenayang" atau "medium") dan orang ini bisa menjadi perantara, maka roh ini bisa digunakannya.

Jin dan Wong Samar
Orang Bali sebenarnya tidak familiar dengan konsep jin. Alih-alih jin, orang Bali meyakini adanya kekuatan alam yang bisa mempengaruhi manusia, yaitu Kekuatan Baik (Dewa) dan Kekuatan Buruk (Bhuta)–mirip dengan Feng Shui: ada energi positif dan negatif. Manusia dalam hidupnya akan selalu dipengaruhi oleh kedua kekuatan ini.

Tentang Bhuta; ada yang berwujud mahluk halus (di Bali dikenal dengan istilah wong samar). Menurut kepercayaan di Bali, mahluk jenis ini memang ada meski tidak terlihat (kasat mata) oleh sebagian besar orang. (Apakah ini yg dimaksud sebagai jin ??)

Namun demikian, manusia harus hidup rukun dengan kekuatan Bhuta ini. Caranya: kita (manusia) dalam kehidupan sehari-harinya tidak lupa memberikan sebagian dari yang kita makan atau dari yang kita punya agar makhluk-makhluk ini tidak mengganggu. Hal ini karena makhluk tersebut memiliki potensi untuk memberikan efek negatif jika "tidak terkendali".

Kenapa mahluk tersebut harus diperlakukan seperti itu? Karena setiap jengkal tanah di Bali ini (dan juga di daerah lain) ditempati mahluk tak kasat mata tersebut. Dan orang Bali sendiri percaya alam ini menciptakan makhluk-makhluk seperti itu.

Hidup Bersama
Apabila makhluk-makhlus halus tersebut tidak mau meninggalkan tempat tinggal mereka (yang bagi kita, misalnya, hanya semak belukar yang tidak nyaman) maka mau tidak mau kita akan "hidup bersama", sehingga ada dua pilihan: kompromi atau dengan jalan "kekerasan".

Konsep "hidup bersama" dengan makhluk-makhluk halus tersebut mirip dengan hidup bersama antara kita (manusia) dengan harimau atau macan. Pernahkah terbersit dalam pikirkan bahwa manusia telah mengubah dunia ini sedemikian sehingga ketika ada ular melintas di jalan raya dan tergilas truk tronton, ular tersebut tidak dapat protes pada sopir truk, pun tidak ada orang yg "menyalahkan" supir truk tersebut?

Jadi, jika kita hidup bersebelahan dengan macan atau singa, kita harus beradaptasi. Jangan melulu dipandang bahwa pihak manusia selalu benar dan pihak macan (atau makhluk-makhluk halus) selalu salah.

Masih inget acara pemburuan hantu di salah satu stasiun televisi kita?? Memang, terkadang, antara manusia dan makhluk-makhluk halus, bisa terjadi konflik yang solusinya tidak ada atau buntu. Sehingga pada keadaan tertentu, manusia harus memindahkan makhluk-makhluk tersebut ke tempatnya yg baru. Jika perlu: memakai "kekerasan". Tapi, selama masih bisa "musyawarah" dan saling "mengerti", kenapa harus pakai kekerasan?

Memanggil Roh
Ketika sedang menjalankan "pekerjaannya", hampir sebagian besar dukun, yang pernah kulihat atau pengalaman orang lain, kehilangan kesadaran-sementara (kehilangan kontrol atas dirinya), meski saya belum pernah mendengar ada yg langsung jadi liar karena pengaruh roh-roh tersebut. Bisa jadi, roh-roh tersebut adalah roh-roh dari orang yg baik-baik atau dukunnya udah punya penangkalnya. Pada intinya roh itu memang terikat di alamnya, maka dukun di Bali sering menggunakan istilah "memanggil", bukan "menyediakan tempat".

Tapi, untuk diketahui, setiap dukun hanya punya waktu yg terbatas untuk memanggil. Hal ini, kemungkinan, dikarenakan keadaan roh yg "terikat" tersebut. Ada yang perlu diperhatikan: kita (manusia) tidak bisa memanggil roh seenak hati dan sering-sering. Selain itu, seringkali perlu ada persyaratan yg harus ditebus untuk mendatangkan roh. Misalnya harus pergi ke suatu tempat atau bahkan permintaan lain yang lebih aneh. Pada kasus lain, pernah pula ada keluarga yg benar-benar ditolak oleh (roh) leluhurnya. Katanya karena antara anggota keluarga tersebut tidak rukun (bertentangan dengan pesan leluhurnya).

Jadi, dukun-dukun  (yang terkenal dan bukan bertujuan untuk menipu orang) di Bali biasanya adalah orang yg punya "bakat khusus" sejak lahir atau, bagi yg tidak punya "bakat khusus", biasanya berpantang sedemikian lama untuk mencari ilmu (misalnya Ki Joko Bodo), kuat di bidang spiritual dan otomatis tidak terlalu tertarik dengan hal material (harta, tahta dan wanita/ seksual). Kemudian, tempat tinggal atau tempat praktiknya pun biasanya "dilindungi" baik oleh benda2 kasat mata atau, bahkan, mahluk2 tak kasat mata.

"Terinfeksi"
Memang pasti ada kemungkinan makhluk-makhluk halus "masuk" ke dukun
kemudian melakukan aksi "tipu-tipu". Namun, seandainya sang dukun
benar-benar sakti, seharusnya kemungkian seperti itu sudah dapat
diantisipasi.

Keluarga-keluarga di Bali, karena percaya dengan Bhuta, maka di tiap-tiap rumahnya dan di tempat-tempat tertentu menyediakan sekedar "tempat berteduh" untuk roh-roh dan makhluk-makhluk halus yang karena suatu dan lain hal menjadi "gentayangan". Bagi yang bisa "melihat", lalu membandingkan antara "suasana" di Bali dan di Jawa, dia akan melihat ada yg "teratur" dan ada yg "acak-acakan".

Jadi, dengan suasana seperti itu, maka kecil kemungkinan buat dukun "terinfeksi" mahluk2 halus, kalaupun kerasukan, tentu pihak keluarga yang memanggil akan mendeteksi karena biasanya ada pertanyaan2 pribadi yg harus dijawab terlebih dahulu. Saya pernah melihat seorang dukun yg didatangi roh orang Inggris dan langsung bicara bhs Inggris, padahal dukun tersebut tidak dapat berbahasa Indonesia, apalagi berbahasa Inggris.

Sekarang kita melihat hasil; dari hasil yg pernah saya dapatkan, belum pernah ada yg menyuruh seseorang untuk mencuri, membunuh dan sebagainya. Biasanya pesannya yaitu "hidup rukun", "jangan suka bertengkar" dan seterusnya. Jika kita coba pahami dari sisi ilmiahnya, setiap dukun belajar spiritual dengan tujuan bisa "memanggil" itu seharusnya mendapatkan frekuensi tertentu atau gelombang tertentu.  Dengan demikian, dengan pantangan dan latihan sedemikian berat tentulah tidak untuk mendapatkan frekuensi "massal" yg dapat "dibajak" makhluk-makhluk halus.

Bali: Persimpangan Energi Positif dan Negatif
Uniknya, kata "orang-orang spiritual", Bali adalah persimpangan (sekaligus pertemuan) antara energi positif dan negatif yang besar. Jadi, apa kesimpulannya ? Kalo Anda mau jadi orang yang baik, dari pelabuhan Banyuwangi (Jatim) menyebrang ke Gilimanuk (Bali), siapkan pikiran Anda dengan hal-hal positif. Niscaya, di Bali, benih-benih itu akan diperkuat jika pikiran Anda sudah "disetel" pada frekuensi tersebut. Sebaliknya, jika mau menjadi "jahat"? Gampang saja, lakukan yg sebaliknya. Ini terjadi pada kasus bom Bali (Amrozi dkk.). Hanya butuh waktu yang singkat, begitu tiba di Bali, mereka memantapkan diri untuk mengebom dan bahkan sampai sekarang nggak pernah merasa bersalah.

Tahukah Anda, salah satu kunci cepatnya kasus Bom Bali I terungkap adalah karena nomer rangka mobil yg tidak hancur. Hal ini berulang-ulang kali diutarakan oleh roh-roh manusia yg gentayangan di TKP via dukun, "lihatlah  nomornya" (meski pada awalnya polisi bingung "nomor" apa yg dimaksud).

December 24, 2006

Tetapi, Kemudian

Filed under: Longer Words — bintang-langit @ 4:40 am

Am I Seducing or Being Seduced?
(The Cure)

[1]
Ketika aku masih duduk di bangku SD, aku gemar bermain layang-layang. Aku berjanji tidak akan berhenti naik ke atas genting rumah tiap sore untuk mengadu layang-layang, dalam benakku. Tetapi, kemudian aku sangat tergoda untuk mengerjakan PR dengan baik dan belajar lebih tekun. Aku luluh oleh godaan itu.

[2]
Ketika aku sudah duduk di bangku SMP, aku sangat asik mengutak-atik mobil-mobilan Tamiya. Akan selalu kujadikan yang tercepat, janjiku untuk Tamiyaku. Tetapi, kemudian aku sangat tergoda untuk menabung uang yang biasa kuhabiskan untuk mengutak-atik Tamiya-ku. Aku tak tahan godaan itu.

[3]
Ketika aku duduk di bangku SMA, aku sangat hidup dengan musik. Bermain musik dan mengoleksi kaset adalah hobiku; aku tidak mungkin untuk meninggalkan hobi ini, itu janjiku dalam hati. Tetapi, kemudian aku terpesona oleh keberadaan para "pemikir" di muka bumi ini. Aku terhanyut oleh rayuan buku-buku.

[4]
Ketika aku masuk dunia kampus, aku sangat tergoda oleh romantisme para pejuang idealisme. Aku akan berkeras putar haluan sebab dengan beginilah kehidupan kemanusiaan di bumi pertiwi ini dapat aku coba selamatkan, janjiku. Tapi, kemudian dunia sastra sangat memesona. Dia berhasil membujukku agar tenteram tidak putar haluan; berjuang berkontribusi sejalan dengan bekal yang kudapat dari sekolah seraya ditemani puisi.

[5]
Kini, ketika aku tumbuh menjadi manusia dewasa, aku merasa berhak berkompromi bebas dengan sukmaku. Aku benar-benar merasakan nikmat dunia ini. Tetapi, kemudian nurani sungguh merayu dan menggodaku. Aku luluh, terbujuk rayuan nurani untuk kembali padanya dan kemudian mencipta sukma yang terisi dengan kesabaran dan kecerdasan.

Rancabungur, 24 Desember 2006
jackstar hs

Next Page »

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.